Welcome

Makasih udah kunjungi blog Saya. Silahkan tinggalkan saran dan kritik dalam menu komentar ya teman

Rabu, 21 Maret 2012

WARNA

Seperti biasa, bel sekolah menyapa telinga siswa. Bak dikejar air pasang, siswa berhamburan keluar dari pagar sekolah. Tetapi tidak dengan siswa yang satu ini, Siska, masih menyempatkan dirinya untuk singgah ke pojok sekolah demi zat adiktif kesayangannya. Gadis belia ini terlalu muda untuk terkena oleh “penyakit nakal”. Gadis manis ini sangat pemalas, seolah-olah tidak ada harapan ke depan, impian dengan masa depan yang cerah. Keunggulan dari gadis belia 16 tahun ini adalah, tetap menjaga “mahkotanya”, selain itu tidak ada.
    Tidak seperti biasa, kali ini dia datang  lebih awal, memasuki kelas dan mengikuti pelajaran sampai selesai. Bel pulang dan keluar dari wilayah sekolah adalah “surga” bagi Siska. Siska seolah-olah tidak menyadari keadaannya yang sebernarnya,, dia terlahir dari keluarga sederhana, yang harusnya dapat menaikkan martabat keluarganya dengan perilaku yang baik. Bukan dengan cara pulang pagi, dan bolos sekolah.
    Malam itu kesunyian menyelimuti malam, yang kemudian dipecahkan oleh suara gaduh, “lebih Kamu keluar, dan jangan kembali lagi kesini, sebelum kamu berubah. Ibu sudah muak, tidak tahan melihat tingkahmu ini.” “hei!! Ok  fine, no problem, Saya  juga sudah bosan hidup penuh aturan disini”. “terserah apa kata kamu Siska, Ibu sudah tidak tahan menanggung semuanya, menanggung sakit hati Ibu melihat perilakumu ini, jadi lebih baik, angkat kakimu dari rumah ini!”. Hempasan pintu mengguncang rumah mungil itu.
Malam kembali sunyi gadis malang ini berjalan tanpa tujuan. Malam yang dingin tanpa rumah terpaksa ia rasakan, tiada harapan untuk masa depan yang cerah. Sekolah sudah tidak sempat ia pikirkan, hanya bagaimana cara mempertahankan hidup dalam benaknya saat ini. Malam berganti pagi, azan subuh berkumandang membangunkannya dari tidur tanpa rumah. Kembali ia berjalan tanpa arah dibawah langit biru diwaktu subuh, hingga seorang gadis menyapanya. “Hey kamu ngapain pagi buta gini disini? Lagi kerja ya?” “Kerja?” “ Hei, hello....kamu anak baru ya?” “Iya, baru. Baru diusir dari rumah”. “Jadi gak punya tempat tinggal dong?” “ Ya enggak, makanya terluntang-lantung gini” “ Yaudah ikut Aku aja ya, oiya kenalin aku Eka” “Siska” jawabnya pendek.
    Sampai ditempat, Siska diperkenalkan Eka kepada teman-temannya “hai kalian semua, kenalkan ini teman baru kita, Siska namanya”. Mata mata liar menyapu seluruh tubuh Siska, wajar kalau gadis ini merasa risih terhadap pandangan mata para lelak itu. “halo Sika, Aku Edo” “Aku Rian” “Aku Apri” “ya, aku Siska senang berjumpa dengan kalian semua, dan terima kasih sekali terhadap sambutan hangat kalian” jawab Siska.
“yaudah Sis, kamu gabubg aja dulu sama yang lain, Aku mau keluar bentar, kalian jagain Siska ya”  begitulah kata-kata yang diucapkan Eka.
Eka pun melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu, dan tinggallah Siska bersama teman-teman barunya, dan sejujurnya bukan keadaan seperti ini yang dia inginkan.
Tanyaan, “ Sis, kenapa kamu bisa nyasar sampai kesini sih? Apa kamu tidak merasa takut dengan penampilan kami ini?” “Aku tak perlu menjawab pertanyaan konyolmu itu, Aku disini dengan Eka, bukan dengan kalian. Jaga jarakmu denganku, jangan sampai sekalipun kamu menyentuhku, bisa kau ingat itukan?” suasana mendadak dingin.
    Pagi berganti siang yang cukup terik, para punker menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Bernyanyi dipersimpangan jalan, dengan bantuan alat musik seadanya, dan bahkan tak jarak menyebabkan para pendengarnya merasa terganggu, namun suara-suara sumbang itu tetap memekakkan telinga, mereka akan pergi apabila sudah diberi uang, ataupun ketika lampu merah tak bisa diajak “berkompromi” dan dengan seenaknya berubah warna menjadi hijau. Bagi mereka hijau adalah musuh, sebab hijau seakan tak mau tau dengan nasib mereka, dan menjalankan kendaraan, yang seakan membawa pergi duit mereka begitu saja.
    Dilain tempat Siska masih berdiam diri disuasana baru yang begitu “buas” baginya. Dalam lamunannya, ia sadar hidup diluar terlalu keras, apalagi untuk anak gadis seperti dia ini. Namun keinginan pulang terpaksa ia musnahkan, Ibunya sudah mengusirnya,, dan rasa gengsi untuk kembali kerumah sudah menyelimutinya. Dengan memikirkan berbagai pertimbangan, dia sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke rumah dan bertemu Ibunya lagi.
Malam kembali datang, teman;teman sudah berkumpul, namun tidak ada Eka, bahkan seujung rambutpun, ia tidak menemukan bayangan teman wanita yang baru dikenalnya tersebut. Malam semakin larut, Eka tak jua kunjung datang, dalam penantiannya, membawanya pada rasa kantu yang dalam. Siska tertidur diantara punk jalanan. Tanpa ia sadari Edo dan Rian mendekatinya, dan mencoba menjamahnya., matanya yang sudah dibutakan syetan menyapu habis seluruh bagian tubuh Siska, dan mulai menyentuhnya. Sontak saja, ia kaget dan mencoba untuk berontak, melepaskan dirinya dari pelukan pria yang nafsunya sudah diujung tanduk tersebut. Namun apa daya, Siska hanya seorang gadis biasa yang tak memiliki tenaga apa-apa.hancurlah sudah, sesuatu yang ia pertahankan selama ini, lenyap dan sia-sia yang sudah direnggut anak punk. Dalam isak tangisnya, ia teringat Ibu. Sangatlah pilu keadaan yang dihadapi Siska, tapi inilah pilihan hidupnya.
Setelah “mahkotanya” direnggut oleh teman bejatnya itu, dia bertekad untuk segera meninggalakan tempat itu. Kembali berjalan tanpa arah, berhari-hari harus tidur diemperan toko, dan memakan makanan sisa. Hingga suatu hari ia berjalan dengan sosok yang hampir menyerupai anak jalanan lainnya. Namun wajah ayu nan rupawan yang ia miliki, memang tidak bisa disimpan meskipun sudah dalam keadaan yang begitu buruk. Hal itulah yang membuat Wati, tidak ragu untuk mendekatinya. Wanita paruh baya ini berwajah lembut yang membuat setiap orang yang didekatinya merasa nyaman dan yakin kepadanya. “kamu tidak punya tempat tinggal?” pertanyaan itu hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Siska, dan kembali meneruskan jalannya. “kalau begitu, ikutlah denganku, Aku punya tempat yang cocok untukmu, dimana kamu bisa berteduh dan memakan makanan yang masih hangat, dan memakai baju yang layak yang sesuai dengan wajah anggunmu nak” “ namaku Siska, bisakah kamu bawa Aku segera ketempat itu?” “tentu saja, ikutlah denganku.” Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Siska mengikuti langkah Wati.
Dengan menaiki taxi, tibalah mereka didepan sebuah rumah, yang tidak begitu besar, namun terlihat sangat mewah, dengan halaman luas, yang menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya. Namun, ada hal yang membuat Siska lebih terkejut dan membuat mulutnya ternganga, ketika ia melihat isi rumah tersebut. Isi rumah dipenuhi oleh wanita-wanita sexy, dengan penampilan yang sangat menggoda mata lelaki. Pikiran Siska, mulai tiada kontrol, “ bagaimana jika Aku harus berpakaian “berani” seperti mereka ini? Aku tidak akan sanggup! “ bagimana bisa Aku melayani nafsu pria, yang dari usia, seharusnya ia menjadi Ayahku.” Kemudia, tersadar dari lamunannya, Siska memohon izin, kepada Wati untuk pergi karena tidak akan mampu berada pada lingkungan seperti itu. Dengan sedikit memberi penjelasan, kerasnya hidup dijalanan tanpa uang dan makanan untu bertahan hidup, Wati tetap mempersilahkan Siska untuk pergi.
    Kembali berteman sunyi. Langkah demi langkah demi langkah tanpa arah yang pasti, Siska tetap berjalan mengarungi pilihannya tersebut. Teringat dengan segala fasilitas yang telah ditawarkan Wati, namun risiko yang harus dihadapi adalah, berhadapan dengan lelaki tua yang tak berakal dan harus melayani nafsunya, yang seharusnya melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan memikirkan kehidupannya didalam tanah karena usianya yang sudah uzur, hanya saja memiliki dompet yang tebal, yang mmbuatnya lupa akan amal.
Namun ia juga tidak munhkin hidup menggelandang tanpa uang untuk mempertahankan hidup. Langkahnya semakin dipercepat untuk kembali ke rumah Wati, tekadnya semakin diperkuat, mengingat dirinya bukanlah utuh sebagai seorang gadis. Sambutan ramah dan senyuman diberikan Wati kepadanya, wanita ini sudah tau, kalau gadis ini perlu berpikir seribu kali dan berpikir keras untuk meninggalkan istananya, sebab siapa yang mau hidup menggelandang, sementara ada berbagai fasilitas yang menantinya.
Malamnya dia bekerja sebagai wanita malam, penaja cinta sesaat yang kemudia menghasilkan rupiah. Sebulan sudah dia nikmati profesi haram itu, samapai pada suatu malam, diadakannya sebuah razia, seluruh wanita malam yang satu profesi dengannya berlarian, berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing. Masih tercengan oleh suasana yang mendadak ricuh, Siska diseret oleh seorang pria, yang tidak ia kenali. Hampir saja ia berteriak, namun suaranya tertahan oleh  senyum teduh pria itu. Seketika ia sadar, bahwa pria itu, bukanlah makhluk yang berbahaya baginya. Yusuf nama pemuda tampan itu. Dia mengerti dan dapat membaca raut wajah Siska, bahwa bekerja sebagai wanita malam bukanlah kehendaknya atas sukarela.
Merasa percaya dan yakin kalau Yusuf, bukanlah pria nakal seperti yang biasa ia jumpai, Siska berani menceritakan latarnya, bahwa dia seorang gadis malang yang telah memasukkan masalah kedalam kehidupannya sendiri.
Yusuf berinisiatif untuk membawa pergi Siska dari dunia kelam itu. Namun Siska menolak ajakan tersebut, belum bisa saat ini juga dia meninggalakan rumah Wati, karena semua benda berharga miliknya masih tertinggal dirumah itu. Keduanya pun sepakat, besok malam bertemu di taman tempat biasa Siska berada dan membawa Siska pergi dari dunia kelam itu.
Malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore dan sore berganti malam, saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua barang-barang berharga siap untuk dibawa, termasuk kalung berlian milik Wati, yang berhasil dicuri Siska, untuk persiapan kebutuhan hidup diluar nanti. Baru saja hendak melangkahkan kaki, harus terhenti, Wati menahan langkah Siska, dengan alasan Siska harus melayani seorang cina tua, jelek, bangkotan dan sudah berbau tanah. Dengan sigap ia masuk ke kamar bersama pria tua itu, dia ikat pria tua yang sudah tidak bertenaga itu layaknyamseperti seorang sandera dan mengambil isi dompet pria malang itu, kecuali foto wanita tua istri si pria tua itu. Hanya dengan melompati sebuah jendela, Siska berhasil keluar dari lingkaran Wati.
    Di taman dengansabar dan penuh was-was Yusuf masih menunggu. Senyum lega, ketika ia melihat Siska datang dengan selamat.
“Aku gak berani pulang kerumah” begitulah kata yang diucapkan Siska ketika hendak meninggalkan taman. “ kita kerumahku saja dulu.” Tertunduk malu, Siska hanya mampu mengikuti langkah Yusuf tanpa berbicara.
Kini, tibalah mereka disebuah rumah lama yang cukup elegant, tampaknya keluarga Yusuf adalah berasal dari ekonomi menengah ke atas sejak dulu, terlihat dari bangunan rumah beserta foto-foto keluarga Yusuf dan cara berpakainnya. Siska pun duduk dengan segala perasaan malu, dan kaku.
Tidak terasa lima hari sudah dia berada dirumah Yusuf. Bukan merasa terbebani, tetapi dari hati yang tulus, Yusuf mengajak Siska untuk kembali menemui Ibunya.
Bukan keinginannya dari hati, namun dorongan dari pria tampan yang ia cintai itu.
Berangkatlah mereka menuju rumah Siska. Tak lama kemudia, tibalah mereka disebuah perkampungan biasa, dan berjalan memasuki gang kecil menuju rumah Siska. Tiba di rumah Siska, tidak ada jawaban dan tidak ada orang. Yusuf berinisiatif untuk menanyakan kepda tetangga Siska, kemanakah Ibu Endah, Ibunya Siska.
Jawaban pahit dari tetangga, sudah lebih dari satu bulan Ibu Endah meninggal ditabrak oleh truk yang melintas saat hujan deras, saat itu Ibu Endah hendak menyusul anak gadisnya yang baru saja diusirnya pada malam itu. “mungkin Ibu Endah menyesal telah mengusir anak gadisnya itu, makanya Ibu Endah menyusul anaknya itu, namun sayangnya Ibu Endah malah meninggal, dan mungkin anaknya itu belum mengetahui kalau Ibunya sudah meninggal Mas. Anak gadisnya itu memang payah Mas!” “oo..begitu ya Pak, kalau boleh tau, dimana makamnya Ibu Endah Pak?” “makamnya tidak jauh dari sini kok Mas, disamping ini kan ada gang, tinggal  masuk saja, disitu ada pemakaman, kuburan yang dipenuhi rumput, itulah kuburannya Ibu Endah, maklum saja, tidak ada keluarganya yang datang untuk melihat atau sekedar mendoakan Ibu itu, oiya Mas ini sebenarnya siapa ya? Kelihatannnya ada hubungan denga keluarga Ibu Endah ya?” “ Saya Yusuf Pak, saya pacarnya Siska, anak Ibu Endah” kontak saja, bapak itu kaget, bagaimana mungkin seorang Siska mendapat teman laki-laki sesantun pria yang ada dihapannya ini, dan kemana selama ini Siska? Pertanyaan itu dia simpan dalam hati, dan kemudia pamait untuk pergi, tidak ingin terlibat urusan yang lebih dalam dengan keluarga Siska.
    Sampai dirumah, Siska menanyakan, kabar apakah yang dibawa Yusuf. Bagaikan tersambar halilintar, ingin rasanya dia mati dalam detik itu juga. Tak mampu mengucap sepatah katapun, pandangan gelap dan kemudian tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Siska sadarkan diri. Masih sangat lemas, seakan tidak ada gairah hidup, bagaimana tidak, ternyata malam itu juga ibunya menyusulnya berlari diantara malam dan deras hujan, namun takdir berkata lain, ibunya harus tewas tergilas truk, saat itu juga.
Yusuf mencoba menenangkan Siska, namun sia-sia saja. Siska semakin histeris memanggil ibunya, dia belum bisa menerima keadaanya yang sebenarnya. Dia terus menangis dan memaki dirinya sendiri sebagai anak durhaka. Berlari sambil berteriak dan menangis serta terus memaki dirinya sendiri. Tanpa banyak kata, ia tancapkan pisau keperutnya, dan sesaat kemudian, Siska bermandikan darahnya sendiri, dan tak dapat diselamatkan saat itu juga. Yusuf mendekati mayat wanita pujaannya tersebut. Tetesan air mata sebagai saksi, sucinya cinta seorang Yusuf kepada Siska. Belum sempat ia nyatakan perasaannya kepada Siska. Namun Siska, sudah lebih dulu mendahuluinya. Begitulah kepahitan yang dialami oleh Yusuf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar