Welcome

Makasih udah kunjungi blog Saya. Silahkan tinggalkan saran dan kritik dalam menu komentar ya teman

Sabtu, 24 Maret 2012

namamu masih ku ukir.
dalam doa
dalam tangis
dalam tawa
dalam sepi
dalam hampa
dalam rindu
dalam hati
tapi dimanakah engkau kini kasih?

rindu

bahkan sajakpun merindukanmu.
merindukanku saat menyelipkan namamu
bahkan doaku pun merindukanmu
merindukanmu saat menyelipkan namamu dalan sujudku

aku

aku. sayap sayap rapuh. terbang bagai debu.
aku. daun daun rapuh. gugur layu menantimu.
aku. puisi  rindu. mengukir sajak rapu untukmu.
aku. mungkin bukan untukmu.

puisi rindu

aku kalut. ketika rindu membelaiku, mengingatkanku padamu yang sudah berlalu.
angin malam saksi  bisu, saat aku menangis untukmu
aku merindukanmu, sangat merindukanmu
aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu
kini,tiada lagi tentangmu
bahkan bayang bayang semu tentangmu tak kunjung ku temui
aku disini berselimut rindu, menantimu dalam kegundahan

Jumat, 23 Maret 2012

untitled

Sebenarnya tidak pantas disebut cinta, sudah dua tahun aku bersama dia. Rasanya biasa saja, tidak ada yang terlalu indah untu dikenang. Aku mampu menangis jika hanya mengingat bagaimana jika dia pergi meninggalkanku. Sampai saat ini, aku tidak bisa membayangkan jika aku harus tanpa dia.
          Sebulan yang lalu aku mengenal Dika di festival musik yang disponsori oleh iklan rokok tersebut yang mempertemukan kami.
Aku tidak pernah bercerita tantang Dika dengan Prima.
          Siag ini cukup panas, aku merasa dehidrasi, ion tubuh banyak yang keluar melalui keringat, itu yang kupelajari dari iklan ditelevisi.
          “Jan, ayo pulang, panas kali. Betah lama-lama panas gini?”
“Kamu duluan aja ya, Aku ada urusan sebentar Prim.”
“urusan apa? Biar ku bantu”
“enggak, pokoknya ada, makanya kamu duluan aja”
‘bilang aja biar kubantu”
“gak usah! Aku bisa sendiri”
          Aku meninggalkan Prima, dalam hati aku merasa iba. “ kenapa Aku sejahat ini? Bukankah dia begitu perhatian, apa salahnya dia perhatian samaku? Toh dia juga pacarku.
Ku bunuh perasaan iba itu secepatnya, dan entah kenapa saat itu setan seluruhnya merajai pikiranku, tapi tidak untuk meninggalkannya, cukup untuk membuatnya menangis dan terluka karena Aku.
          Handphone-ku berdering, Dika sudah setengah jam menunggu di rumahku. Aku bergegas pulang, sekejab melihat nama Dika di layer handphone, meredakan emosiku. Sampai di rumah, Dika menyambutku.
Lima belas menit kemudian, Kami berangkat untuk makan siang. Dengan santai, sambil mendengarkan lagu0lagu indie daerah kami. Saat itu Prima bersih dari ingatanku, tak setitikpun ku ingat Dia, Aku benr-benar hanyut dalam suasana bersama Dika. Dalam hati, aku sedikit merasa bersalah pada Prima, maafkan Aku saying, Aku hanya butuh “refreshing” tanpamu. Mobil tiba di parkiran, Kami segera memasuki café.
Mulai dari memesan makanan, menunggu pesanan datang, dan memakan pesanan yang sudah datang kami lewati dengan tawa lepas.
          Sebelumnya hal seperti ini, tidak pernah Kami lakukan bersama Prima yang sering makan di kafe-kafe kecil dan jajanan jalanan lainnya.jiwa kesederhanaan Prima terkadang membuatku jengkel. Terdengar nada pesan SMA, ku lihathandphone, perasaanku jengkel, Aku menemukan nama Prima di layer. Asa 9 pesan dan 13 panggilan tidak terjawab. Semua atas nama Prima. Apa tidak ada nama lain yang harus masuk kesini, kenapa harus nama Dia saja.
          Aku melirik Dika sambil memasukkan handphone-ku yang sudah tidak aktif ked lam tas.dia tersenyum, bibir menawannya sambil menahan makanan yang dikunyahnya. Aku membalas senyumnya.
“bagaimana kalau Dika tau, Aku sudah punya pacar? Pasti aku ditinggalnya. Bagaimana kalau Dika ku jadikan sahabatku saja? Tidak memalukan untuk diajak ke ujung dunia manapun, tapi bagaimana dengan nasib si Prima? Apa ku buang aja?
          “Jan, kamu lamunin apa?:
“ah, enggak kok”
“oh, ya udah. Kamu udah selesai maknnya? Biar kita berangkat”
“udah kok”
          Kali ini mobil melaju lebih cepat. Entah apa yang ada dipikiran Dika. Sepertinya Dia sedang ada masalah, tapi ku tak tau sejak kapan. Semua terjadi secara tiba-tiba. Untuk menanyakannya saja aku segan.
          Sampai di halaman, aku meminta Dika untuk segera pulang. Tidak perlu memarkirkan sednnya di halaman rumah.
Aku terkejut, detak jantung semakin cepat, darah naik secepat kilat ke ubun-ubun. Prima duduk manis dengan anggunnya sambil menonton televisi.
“dari mana aja Jan? ku telepon, ku SMS gak digubris”
Iya, batreku tadi lagi lw. Tadi ke PU sebentar, nyari buku biologi, Aku mandi dulu ya”
Aku berlari menaiki anak tangga satu persatu, sambil memaki Prima dalam hati. ‘tidak tau diri, masih aja datang-datang kesini”
          Pintu kamar kubuka, Aku menghempaskan diriku ke tempat tidur.
‘Prima mafkan aku, sebenarnya Aku saying sekali padamu, tetapi apa daya, Aku juga cinta Dika, tap Aku janji, apapun nanti, Aku akan tertap bersamamu.”
Selesai mandi, Aku bergegas turun, tapi Prima tidak kelihatan.
“Ma, Prima mana? Kok langsung pulang gitu aja?”
“lagi keluar Jan, Dia bilang, Kamu pasti laper, capekkan dari siang tadi ke PU, pasti belum makan”
aku tertegun, Aku merasa hina. Wanita apa Aku ini. Lelaki sebaik Dia ku sia-siakan.
Satu jam sambol menunggu Prima datang, Aku menonton televise sambil mdengarkan lagu-lagu indie yang ada di mp3. mulai bosan. Aku mengambil handphone ke kamar, ada dua pesan ku terima. Atas nama yang sama Prima.
“Jany saying, Aku sebentar beli makan siangmu ya. Pasti laper kan? Dari siang tadi. Sabar sebentar ya saying, jangan makan dulu”
Aku kembali tertegun dan terharu.
Lamunanku pecah, nada dering lagu rock yang ku atur sebagai nada dering mengusikku.
Pihak Rumah Sakit Herna memberitahukan bahwa Prima kecelakaan, dan identitasnya baru saja ditemukan. Pihak R.S menemukan nomorku sebagai nomor terakhir yang dihubungi Prma.
          Dari kaca ruang ICU ku lihat Prima tidak sadarkan diri.saat itu Aku  sama sekali melupakan Dika. Tidak ada ruang dalam fikiranku untuk memikirkannya.
          Sepulang sekolah Aku langsung menuju Rumah Sakit. Senang melihatnya sudah sadar. Hanya sedikit luka pada bagian lengan dan kaki. Dua hari kemudian, Prima sudah diizinkan pulang dari Rumah Sakit.
Seminggu Kami mengarungi hari-hari yang bahagia tanpa konflik atas keegoisanku.
          Tiba-tiba ada rindu yang mendadak ku rasakan. Tampat festival musik yang mempertemukan Aku dan Dika. Sudah beberapa hari iniAku tidak menghubunginya. Berpura-pura ingin meminta maaf, baru bisa membalas SMS-nya karena focus belajar, sedikit alas an, modus, demi harga diri.
          Matahari kembali ke peraduannya, hiruk-pikuk abu, asap kota tak berubah kulihat dari atas.ku lihat sedan hitam datang. Bergegas turun menghampiri Dika.
Mobil melaju perlahan, setiap dalam kata aku sambil menunggu, kapan Dika akan mengutarakan cintanya padaku sampai saat ini. Hanya isyarat yang ku dapat, tanpa kata.
          Sampailah pada resto yang cukup ternama di kota ini. Mulai memesan makanan, menunggu makanan, dam menyantap makanan yang sudah disajikan, tetapi tidak seindah kemarin. Seperti ada perasaan yang mengganjal, yang tak bisa ku ungkapkan.
          Pagi ini disekolah, entah mengapa aku kembali merindukan Dika. Ku coba meghubunginya untuk pertama kalinya selama enam bulan kami saling mengenal. Tidak ada respon apa-apa. Perasaanku semakin gelisah tak menentu.
          Sampai senja menyambut malam, aku berselimut gelisah. Tepat pukul 19:00 wib, ada satu pesan atas nama Dika, Akupun bersorak kegirangan.
“Jany, maafkan Aku. Aku harus kembali ke Bandung, tempat anak dan istriku,dan keluargaku yang lainnya”
          Jantungku hamper berhenti. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ku cintai, adalah lelaki beristri.
          Salahku, sejak awal berjumpa Aku tak sekalipun menanyakan asal-usulnya. Aku terhanyut dalam perasaan cintaku dengan lelaki beistri itu.
Tak bisa menangis, Aku hanya mersa hina atas diriku sendiri. Rasa cintaku sekejab berubah menjadi rasa kecewa dan dendam. Ingin rasanya ku bunuh si Dika itu, dan menguburnya hidup-hidup. Tapi ini semua akibat kebodohanku. Keadaan tak perlu disesali, ini semua akibat ulahku sendiri.
Hubunganku dengan Prima, berjalan seperti biasa. Tiga hari setelah menghilangnya Dika, Prima ingin kembali ke Surabaya.
“Aku mungkin gak bisa buat Kamu senag Jan, jadi lebih baik aku menghilang dari kehidupanmu”
“enggak Prim, tolong jangan main-main atas ucapanmu”
“mungkin Dika cukup membahagiakanmu, sebisanya aku selalu mencoba membahagiakan Kamu, tapi selalu gagal”
          Tak ku sangka Prima mengetahui segala skandalku dengan Dika.
Dia berlalu bersama lampu jalan.
Rintikan hujan sedikit membasahiku. Tak ku lihat lagi bayang Prima.
Seminggu Dia pergi, ada pesan puisi yang ku terima dari Prima


Sebisa waktu memberi
Aku kuat bertahan
Mawarku mekar, mawarmu layu
Seiring waktu yang berjalan
Mawar layu digenggaman kita

Entah apa maksud puisi tersebut. Aku mengenangnya sebagai masa lalu yang indah.


Rabu, 21 Maret 2012

WARNA

Seperti biasa, bel sekolah menyapa telinga siswa. Bak dikejar air pasang, siswa berhamburan keluar dari pagar sekolah. Tetapi tidak dengan siswa yang satu ini, Siska, masih menyempatkan dirinya untuk singgah ke pojok sekolah demi zat adiktif kesayangannya. Gadis belia ini terlalu muda untuk terkena oleh “penyakit nakal”. Gadis manis ini sangat pemalas, seolah-olah tidak ada harapan ke depan, impian dengan masa depan yang cerah. Keunggulan dari gadis belia 16 tahun ini adalah, tetap menjaga “mahkotanya”, selain itu tidak ada.
    Tidak seperti biasa, kali ini dia datang  lebih awal, memasuki kelas dan mengikuti pelajaran sampai selesai. Bel pulang dan keluar dari wilayah sekolah adalah “surga” bagi Siska. Siska seolah-olah tidak menyadari keadaannya yang sebernarnya,, dia terlahir dari keluarga sederhana, yang harusnya dapat menaikkan martabat keluarganya dengan perilaku yang baik. Bukan dengan cara pulang pagi, dan bolos sekolah.
    Malam itu kesunyian menyelimuti malam, yang kemudian dipecahkan oleh suara gaduh, “lebih Kamu keluar, dan jangan kembali lagi kesini, sebelum kamu berubah. Ibu sudah muak, tidak tahan melihat tingkahmu ini.” “hei!! Ok  fine, no problem, Saya  juga sudah bosan hidup penuh aturan disini”. “terserah apa kata kamu Siska, Ibu sudah tidak tahan menanggung semuanya, menanggung sakit hati Ibu melihat perilakumu ini, jadi lebih baik, angkat kakimu dari rumah ini!”. Hempasan pintu mengguncang rumah mungil itu.
Malam kembali sunyi gadis malang ini berjalan tanpa tujuan. Malam yang dingin tanpa rumah terpaksa ia rasakan, tiada harapan untuk masa depan yang cerah. Sekolah sudah tidak sempat ia pikirkan, hanya bagaimana cara mempertahankan hidup dalam benaknya saat ini. Malam berganti pagi, azan subuh berkumandang membangunkannya dari tidur tanpa rumah. Kembali ia berjalan tanpa arah dibawah langit biru diwaktu subuh, hingga seorang gadis menyapanya. “Hey kamu ngapain pagi buta gini disini? Lagi kerja ya?” “Kerja?” “ Hei, hello....kamu anak baru ya?” “Iya, baru. Baru diusir dari rumah”. “Jadi gak punya tempat tinggal dong?” “ Ya enggak, makanya terluntang-lantung gini” “ Yaudah ikut Aku aja ya, oiya kenalin aku Eka” “Siska” jawabnya pendek.
    Sampai ditempat, Siska diperkenalkan Eka kepada teman-temannya “hai kalian semua, kenalkan ini teman baru kita, Siska namanya”. Mata mata liar menyapu seluruh tubuh Siska, wajar kalau gadis ini merasa risih terhadap pandangan mata para lelak itu. “halo Sika, Aku Edo” “Aku Rian” “Aku Apri” “ya, aku Siska senang berjumpa dengan kalian semua, dan terima kasih sekali terhadap sambutan hangat kalian” jawab Siska.
“yaudah Sis, kamu gabubg aja dulu sama yang lain, Aku mau keluar bentar, kalian jagain Siska ya”  begitulah kata-kata yang diucapkan Eka.
Eka pun melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu, dan tinggallah Siska bersama teman-teman barunya, dan sejujurnya bukan keadaan seperti ini yang dia inginkan.
Tanyaan, “ Sis, kenapa kamu bisa nyasar sampai kesini sih? Apa kamu tidak merasa takut dengan penampilan kami ini?” “Aku tak perlu menjawab pertanyaan konyolmu itu, Aku disini dengan Eka, bukan dengan kalian. Jaga jarakmu denganku, jangan sampai sekalipun kamu menyentuhku, bisa kau ingat itukan?” suasana mendadak dingin.
    Pagi berganti siang yang cukup terik, para punker menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Bernyanyi dipersimpangan jalan, dengan bantuan alat musik seadanya, dan bahkan tak jarak menyebabkan para pendengarnya merasa terganggu, namun suara-suara sumbang itu tetap memekakkan telinga, mereka akan pergi apabila sudah diberi uang, ataupun ketika lampu merah tak bisa diajak “berkompromi” dan dengan seenaknya berubah warna menjadi hijau. Bagi mereka hijau adalah musuh, sebab hijau seakan tak mau tau dengan nasib mereka, dan menjalankan kendaraan, yang seakan membawa pergi duit mereka begitu saja.
    Dilain tempat Siska masih berdiam diri disuasana baru yang begitu “buas” baginya. Dalam lamunannya, ia sadar hidup diluar terlalu keras, apalagi untuk anak gadis seperti dia ini. Namun keinginan pulang terpaksa ia musnahkan, Ibunya sudah mengusirnya,, dan rasa gengsi untuk kembali kerumah sudah menyelimutinya. Dengan memikirkan berbagai pertimbangan, dia sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke rumah dan bertemu Ibunya lagi.
Malam kembali datang, teman;teman sudah berkumpul, namun tidak ada Eka, bahkan seujung rambutpun, ia tidak menemukan bayangan teman wanita yang baru dikenalnya tersebut. Malam semakin larut, Eka tak jua kunjung datang, dalam penantiannya, membawanya pada rasa kantu yang dalam. Siska tertidur diantara punk jalanan. Tanpa ia sadari Edo dan Rian mendekatinya, dan mencoba menjamahnya., matanya yang sudah dibutakan syetan menyapu habis seluruh bagian tubuh Siska, dan mulai menyentuhnya. Sontak saja, ia kaget dan mencoba untuk berontak, melepaskan dirinya dari pelukan pria yang nafsunya sudah diujung tanduk tersebut. Namun apa daya, Siska hanya seorang gadis biasa yang tak memiliki tenaga apa-apa.hancurlah sudah, sesuatu yang ia pertahankan selama ini, lenyap dan sia-sia yang sudah direnggut anak punk. Dalam isak tangisnya, ia teringat Ibu. Sangatlah pilu keadaan yang dihadapi Siska, tapi inilah pilihan hidupnya.
Setelah “mahkotanya” direnggut oleh teman bejatnya itu, dia bertekad untuk segera meninggalakan tempat itu. Kembali berjalan tanpa arah, berhari-hari harus tidur diemperan toko, dan memakan makanan sisa. Hingga suatu hari ia berjalan dengan sosok yang hampir menyerupai anak jalanan lainnya. Namun wajah ayu nan rupawan yang ia miliki, memang tidak bisa disimpan meskipun sudah dalam keadaan yang begitu buruk. Hal itulah yang membuat Wati, tidak ragu untuk mendekatinya. Wanita paruh baya ini berwajah lembut yang membuat setiap orang yang didekatinya merasa nyaman dan yakin kepadanya. “kamu tidak punya tempat tinggal?” pertanyaan itu hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Siska, dan kembali meneruskan jalannya. “kalau begitu, ikutlah denganku, Aku punya tempat yang cocok untukmu, dimana kamu bisa berteduh dan memakan makanan yang masih hangat, dan memakai baju yang layak yang sesuai dengan wajah anggunmu nak” “ namaku Siska, bisakah kamu bawa Aku segera ketempat itu?” “tentu saja, ikutlah denganku.” Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Siska mengikuti langkah Wati.
Dengan menaiki taxi, tibalah mereka didepan sebuah rumah, yang tidak begitu besar, namun terlihat sangat mewah, dengan halaman luas, yang menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya. Namun, ada hal yang membuat Siska lebih terkejut dan membuat mulutnya ternganga, ketika ia melihat isi rumah tersebut. Isi rumah dipenuhi oleh wanita-wanita sexy, dengan penampilan yang sangat menggoda mata lelaki. Pikiran Siska, mulai tiada kontrol, “ bagaimana jika Aku harus berpakaian “berani” seperti mereka ini? Aku tidak akan sanggup! “ bagimana bisa Aku melayani nafsu pria, yang dari usia, seharusnya ia menjadi Ayahku.” Kemudia, tersadar dari lamunannya, Siska memohon izin, kepada Wati untuk pergi karena tidak akan mampu berada pada lingkungan seperti itu. Dengan sedikit memberi penjelasan, kerasnya hidup dijalanan tanpa uang dan makanan untu bertahan hidup, Wati tetap mempersilahkan Siska untuk pergi.
    Kembali berteman sunyi. Langkah demi langkah demi langkah tanpa arah yang pasti, Siska tetap berjalan mengarungi pilihannya tersebut. Teringat dengan segala fasilitas yang telah ditawarkan Wati, namun risiko yang harus dihadapi adalah, berhadapan dengan lelaki tua yang tak berakal dan harus melayani nafsunya, yang seharusnya melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan memikirkan kehidupannya didalam tanah karena usianya yang sudah uzur, hanya saja memiliki dompet yang tebal, yang mmbuatnya lupa akan amal.
Namun ia juga tidak munhkin hidup menggelandang tanpa uang untuk mempertahankan hidup. Langkahnya semakin dipercepat untuk kembali ke rumah Wati, tekadnya semakin diperkuat, mengingat dirinya bukanlah utuh sebagai seorang gadis. Sambutan ramah dan senyuman diberikan Wati kepadanya, wanita ini sudah tau, kalau gadis ini perlu berpikir seribu kali dan berpikir keras untuk meninggalkan istananya, sebab siapa yang mau hidup menggelandang, sementara ada berbagai fasilitas yang menantinya.
Malamnya dia bekerja sebagai wanita malam, penaja cinta sesaat yang kemudia menghasilkan rupiah. Sebulan sudah dia nikmati profesi haram itu, samapai pada suatu malam, diadakannya sebuah razia, seluruh wanita malam yang satu profesi dengannya berlarian, berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing. Masih tercengan oleh suasana yang mendadak ricuh, Siska diseret oleh seorang pria, yang tidak ia kenali. Hampir saja ia berteriak, namun suaranya tertahan oleh  senyum teduh pria itu. Seketika ia sadar, bahwa pria itu, bukanlah makhluk yang berbahaya baginya. Yusuf nama pemuda tampan itu. Dia mengerti dan dapat membaca raut wajah Siska, bahwa bekerja sebagai wanita malam bukanlah kehendaknya atas sukarela.
Merasa percaya dan yakin kalau Yusuf, bukanlah pria nakal seperti yang biasa ia jumpai, Siska berani menceritakan latarnya, bahwa dia seorang gadis malang yang telah memasukkan masalah kedalam kehidupannya sendiri.
Yusuf berinisiatif untuk membawa pergi Siska dari dunia kelam itu. Namun Siska menolak ajakan tersebut, belum bisa saat ini juga dia meninggalakan rumah Wati, karena semua benda berharga miliknya masih tertinggal dirumah itu. Keduanya pun sepakat, besok malam bertemu di taman tempat biasa Siska berada dan membawa Siska pergi dari dunia kelam itu.
Malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore dan sore berganti malam, saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua barang-barang berharga siap untuk dibawa, termasuk kalung berlian milik Wati, yang berhasil dicuri Siska, untuk persiapan kebutuhan hidup diluar nanti. Baru saja hendak melangkahkan kaki, harus terhenti, Wati menahan langkah Siska, dengan alasan Siska harus melayani seorang cina tua, jelek, bangkotan dan sudah berbau tanah. Dengan sigap ia masuk ke kamar bersama pria tua itu, dia ikat pria tua yang sudah tidak bertenaga itu layaknyamseperti seorang sandera dan mengambil isi dompet pria malang itu, kecuali foto wanita tua istri si pria tua itu. Hanya dengan melompati sebuah jendela, Siska berhasil keluar dari lingkaran Wati.
    Di taman dengansabar dan penuh was-was Yusuf masih menunggu. Senyum lega, ketika ia melihat Siska datang dengan selamat.
“Aku gak berani pulang kerumah” begitulah kata yang diucapkan Siska ketika hendak meninggalkan taman. “ kita kerumahku saja dulu.” Tertunduk malu, Siska hanya mampu mengikuti langkah Yusuf tanpa berbicara.
Kini, tibalah mereka disebuah rumah lama yang cukup elegant, tampaknya keluarga Yusuf adalah berasal dari ekonomi menengah ke atas sejak dulu, terlihat dari bangunan rumah beserta foto-foto keluarga Yusuf dan cara berpakainnya. Siska pun duduk dengan segala perasaan malu, dan kaku.
Tidak terasa lima hari sudah dia berada dirumah Yusuf. Bukan merasa terbebani, tetapi dari hati yang tulus, Yusuf mengajak Siska untuk kembali menemui Ibunya.
Bukan keinginannya dari hati, namun dorongan dari pria tampan yang ia cintai itu.
Berangkatlah mereka menuju rumah Siska. Tak lama kemudia, tibalah mereka disebuah perkampungan biasa, dan berjalan memasuki gang kecil menuju rumah Siska. Tiba di rumah Siska, tidak ada jawaban dan tidak ada orang. Yusuf berinisiatif untuk menanyakan kepda tetangga Siska, kemanakah Ibu Endah, Ibunya Siska.
Jawaban pahit dari tetangga, sudah lebih dari satu bulan Ibu Endah meninggal ditabrak oleh truk yang melintas saat hujan deras, saat itu Ibu Endah hendak menyusul anak gadisnya yang baru saja diusirnya pada malam itu. “mungkin Ibu Endah menyesal telah mengusir anak gadisnya itu, makanya Ibu Endah menyusul anaknya itu, namun sayangnya Ibu Endah malah meninggal, dan mungkin anaknya itu belum mengetahui kalau Ibunya sudah meninggal Mas. Anak gadisnya itu memang payah Mas!” “oo..begitu ya Pak, kalau boleh tau, dimana makamnya Ibu Endah Pak?” “makamnya tidak jauh dari sini kok Mas, disamping ini kan ada gang, tinggal  masuk saja, disitu ada pemakaman, kuburan yang dipenuhi rumput, itulah kuburannya Ibu Endah, maklum saja, tidak ada keluarganya yang datang untuk melihat atau sekedar mendoakan Ibu itu, oiya Mas ini sebenarnya siapa ya? Kelihatannnya ada hubungan denga keluarga Ibu Endah ya?” “ Saya Yusuf Pak, saya pacarnya Siska, anak Ibu Endah” kontak saja, bapak itu kaget, bagaimana mungkin seorang Siska mendapat teman laki-laki sesantun pria yang ada dihapannya ini, dan kemana selama ini Siska? Pertanyaan itu dia simpan dalam hati, dan kemudia pamait untuk pergi, tidak ingin terlibat urusan yang lebih dalam dengan keluarga Siska.
    Sampai dirumah, Siska menanyakan, kabar apakah yang dibawa Yusuf. Bagaikan tersambar halilintar, ingin rasanya dia mati dalam detik itu juga. Tak mampu mengucap sepatah katapun, pandangan gelap dan kemudian tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Siska sadarkan diri. Masih sangat lemas, seakan tidak ada gairah hidup, bagaimana tidak, ternyata malam itu juga ibunya menyusulnya berlari diantara malam dan deras hujan, namun takdir berkata lain, ibunya harus tewas tergilas truk, saat itu juga.
Yusuf mencoba menenangkan Siska, namun sia-sia saja. Siska semakin histeris memanggil ibunya, dia belum bisa menerima keadaanya yang sebenarnya. Dia terus menangis dan memaki dirinya sendiri sebagai anak durhaka. Berlari sambil berteriak dan menangis serta terus memaki dirinya sendiri. Tanpa banyak kata, ia tancapkan pisau keperutnya, dan sesaat kemudian, Siska bermandikan darahnya sendiri, dan tak dapat diselamatkan saat itu juga. Yusuf mendekati mayat wanita pujaannya tersebut. Tetesan air mata sebagai saksi, sucinya cinta seorang Yusuf kepada Siska. Belum sempat ia nyatakan perasaannya kepada Siska. Namun Siska, sudah lebih dulu mendahuluinya. Begitulah kepahitan yang dialami oleh Yusuf.

Selasa, 13 Maret 2012


Angin bisikkan kata kata, tentang cinta tentang luka. Kabut malam perlahan turun, menyelimuti sepinya malam. Ada isak tangis, rintihan hati  yang terlalu lelah tuk merindu kekasih yang tiada kembali.

Berjuta kisah kita lukiskan, dan kini hanya berbuah kenangan. Terlalu cepat engkau pergi. kini hanya bayang bayangmu yang tersisa dalam benakku. Saat aku semakin terlarut dalam dekapan cintamu, saat engkau tinggalkan Aku. Tenanglah kasih, dalam sujudku senantiasa akan selalu terangkai doa untukmu. Tunggu aku, ada waktu kita bertemu saat tuhan rindukan aku, dan pertemukan Aku dan Kamu.

Sajakku terangkai untukmu, meski kau jauh, hangatnya cintamu dapat kurasa. Dalam dekapan rindu, bayangmu membelaiku. bersama bayang bayang malam, kulihat kita bercumbu setelah lama tak bertemu dan tersadarkan oleh pagi.

Rinduku tersayat sepi. Asaku dirobek robek dusta. Aku berjalan gontai dengan setangkai mawar yang ku genggam. Bersama kekeliruan aku nikmati lara ini. Berjuta kepedihan saat bersamamu dengan segala cinta yang tiada pasti.