Welcome

Makasih udah kunjungi blog Saya. Silahkan tinggalkan saran dan kritik dalam menu komentar ya teman

Jumat, 23 Maret 2012

untitled

Sebenarnya tidak pantas disebut cinta, sudah dua tahun aku bersama dia. Rasanya biasa saja, tidak ada yang terlalu indah untu dikenang. Aku mampu menangis jika hanya mengingat bagaimana jika dia pergi meninggalkanku. Sampai saat ini, aku tidak bisa membayangkan jika aku harus tanpa dia.
          Sebulan yang lalu aku mengenal Dika di festival musik yang disponsori oleh iklan rokok tersebut yang mempertemukan kami.
Aku tidak pernah bercerita tantang Dika dengan Prima.
          Siag ini cukup panas, aku merasa dehidrasi, ion tubuh banyak yang keluar melalui keringat, itu yang kupelajari dari iklan ditelevisi.
          “Jan, ayo pulang, panas kali. Betah lama-lama panas gini?”
“Kamu duluan aja ya, Aku ada urusan sebentar Prim.”
“urusan apa? Biar ku bantu”
“enggak, pokoknya ada, makanya kamu duluan aja”
‘bilang aja biar kubantu”
“gak usah! Aku bisa sendiri”
          Aku meninggalkan Prima, dalam hati aku merasa iba. “ kenapa Aku sejahat ini? Bukankah dia begitu perhatian, apa salahnya dia perhatian samaku? Toh dia juga pacarku.
Ku bunuh perasaan iba itu secepatnya, dan entah kenapa saat itu setan seluruhnya merajai pikiranku, tapi tidak untuk meninggalkannya, cukup untuk membuatnya menangis dan terluka karena Aku.
          Handphone-ku berdering, Dika sudah setengah jam menunggu di rumahku. Aku bergegas pulang, sekejab melihat nama Dika di layer handphone, meredakan emosiku. Sampai di rumah, Dika menyambutku.
Lima belas menit kemudian, Kami berangkat untuk makan siang. Dengan santai, sambil mendengarkan lagu0lagu indie daerah kami. Saat itu Prima bersih dari ingatanku, tak setitikpun ku ingat Dia, Aku benr-benar hanyut dalam suasana bersama Dika. Dalam hati, aku sedikit merasa bersalah pada Prima, maafkan Aku saying, Aku hanya butuh “refreshing” tanpamu. Mobil tiba di parkiran, Kami segera memasuki cafĂ©.
Mulai dari memesan makanan, menunggu pesanan datang, dan memakan pesanan yang sudah datang kami lewati dengan tawa lepas.
          Sebelumnya hal seperti ini, tidak pernah Kami lakukan bersama Prima yang sering makan di kafe-kafe kecil dan jajanan jalanan lainnya.jiwa kesederhanaan Prima terkadang membuatku jengkel. Terdengar nada pesan SMA, ku lihathandphone, perasaanku jengkel, Aku menemukan nama Prima di layer. Asa 9 pesan dan 13 panggilan tidak terjawab. Semua atas nama Prima. Apa tidak ada nama lain yang harus masuk kesini, kenapa harus nama Dia saja.
          Aku melirik Dika sambil memasukkan handphone-ku yang sudah tidak aktif ked lam tas.dia tersenyum, bibir menawannya sambil menahan makanan yang dikunyahnya. Aku membalas senyumnya.
“bagaimana kalau Dika tau, Aku sudah punya pacar? Pasti aku ditinggalnya. Bagaimana kalau Dika ku jadikan sahabatku saja? Tidak memalukan untuk diajak ke ujung dunia manapun, tapi bagaimana dengan nasib si Prima? Apa ku buang aja?
          “Jan, kamu lamunin apa?:
“ah, enggak kok”
“oh, ya udah. Kamu udah selesai maknnya? Biar kita berangkat”
“udah kok”
          Kali ini mobil melaju lebih cepat. Entah apa yang ada dipikiran Dika. Sepertinya Dia sedang ada masalah, tapi ku tak tau sejak kapan. Semua terjadi secara tiba-tiba. Untuk menanyakannya saja aku segan.
          Sampai di halaman, aku meminta Dika untuk segera pulang. Tidak perlu memarkirkan sednnya di halaman rumah.
Aku terkejut, detak jantung semakin cepat, darah naik secepat kilat ke ubun-ubun. Prima duduk manis dengan anggunnya sambil menonton televisi.
“dari mana aja Jan? ku telepon, ku SMS gak digubris”
Iya, batreku tadi lagi lw. Tadi ke PU sebentar, nyari buku biologi, Aku mandi dulu ya”
Aku berlari menaiki anak tangga satu persatu, sambil memaki Prima dalam hati. ‘tidak tau diri, masih aja datang-datang kesini”
          Pintu kamar kubuka, Aku menghempaskan diriku ke tempat tidur.
‘Prima mafkan aku, sebenarnya Aku saying sekali padamu, tetapi apa daya, Aku juga cinta Dika, tap Aku janji, apapun nanti, Aku akan tertap bersamamu.”
Selesai mandi, Aku bergegas turun, tapi Prima tidak kelihatan.
“Ma, Prima mana? Kok langsung pulang gitu aja?”
“lagi keluar Jan, Dia bilang, Kamu pasti laper, capekkan dari siang tadi ke PU, pasti belum makan”
aku tertegun, Aku merasa hina. Wanita apa Aku ini. Lelaki sebaik Dia ku sia-siakan.
Satu jam sambol menunggu Prima datang, Aku menonton televise sambil mdengarkan lagu-lagu indie yang ada di mp3. mulai bosan. Aku mengambil handphone ke kamar, ada dua pesan ku terima. Atas nama yang sama Prima.
“Jany saying, Aku sebentar beli makan siangmu ya. Pasti laper kan? Dari siang tadi. Sabar sebentar ya saying, jangan makan dulu”
Aku kembali tertegun dan terharu.
Lamunanku pecah, nada dering lagu rock yang ku atur sebagai nada dering mengusikku.
Pihak Rumah Sakit Herna memberitahukan bahwa Prima kecelakaan, dan identitasnya baru saja ditemukan. Pihak R.S menemukan nomorku sebagai nomor terakhir yang dihubungi Prma.
          Dari kaca ruang ICU ku lihat Prima tidak sadarkan diri.saat itu Aku  sama sekali melupakan Dika. Tidak ada ruang dalam fikiranku untuk memikirkannya.
          Sepulang sekolah Aku langsung menuju Rumah Sakit. Senang melihatnya sudah sadar. Hanya sedikit luka pada bagian lengan dan kaki. Dua hari kemudian, Prima sudah diizinkan pulang dari Rumah Sakit.
Seminggu Kami mengarungi hari-hari yang bahagia tanpa konflik atas keegoisanku.
          Tiba-tiba ada rindu yang mendadak ku rasakan. Tampat festival musik yang mempertemukan Aku dan Dika. Sudah beberapa hari iniAku tidak menghubunginya. Berpura-pura ingin meminta maaf, baru bisa membalas SMS-nya karena focus belajar, sedikit alas an, modus, demi harga diri.
          Matahari kembali ke peraduannya, hiruk-pikuk abu, asap kota tak berubah kulihat dari atas.ku lihat sedan hitam datang. Bergegas turun menghampiri Dika.
Mobil melaju perlahan, setiap dalam kata aku sambil menunggu, kapan Dika akan mengutarakan cintanya padaku sampai saat ini. Hanya isyarat yang ku dapat, tanpa kata.
          Sampailah pada resto yang cukup ternama di kota ini. Mulai memesan makanan, menunggu makanan, dam menyantap makanan yang sudah disajikan, tetapi tidak seindah kemarin. Seperti ada perasaan yang mengganjal, yang tak bisa ku ungkapkan.
          Pagi ini disekolah, entah mengapa aku kembali merindukan Dika. Ku coba meghubunginya untuk pertama kalinya selama enam bulan kami saling mengenal. Tidak ada respon apa-apa. Perasaanku semakin gelisah tak menentu.
          Sampai senja menyambut malam, aku berselimut gelisah. Tepat pukul 19:00 wib, ada satu pesan atas nama Dika, Akupun bersorak kegirangan.
“Jany, maafkan Aku. Aku harus kembali ke Bandung, tempat anak dan istriku,dan keluargaku yang lainnya”
          Jantungku hamper berhenti. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ku cintai, adalah lelaki beristri.
          Salahku, sejak awal berjumpa Aku tak sekalipun menanyakan asal-usulnya. Aku terhanyut dalam perasaan cintaku dengan lelaki beistri itu.
Tak bisa menangis, Aku hanya mersa hina atas diriku sendiri. Rasa cintaku sekejab berubah menjadi rasa kecewa dan dendam. Ingin rasanya ku bunuh si Dika itu, dan menguburnya hidup-hidup. Tapi ini semua akibat kebodohanku. Keadaan tak perlu disesali, ini semua akibat ulahku sendiri.
Hubunganku dengan Prima, berjalan seperti biasa. Tiga hari setelah menghilangnya Dika, Prima ingin kembali ke Surabaya.
“Aku mungkin gak bisa buat Kamu senag Jan, jadi lebih baik aku menghilang dari kehidupanmu”
“enggak Prim, tolong jangan main-main atas ucapanmu”
“mungkin Dika cukup membahagiakanmu, sebisanya aku selalu mencoba membahagiakan Kamu, tapi selalu gagal”
          Tak ku sangka Prima mengetahui segala skandalku dengan Dika.
Dia berlalu bersama lampu jalan.
Rintikan hujan sedikit membasahiku. Tak ku lihat lagi bayang Prima.
Seminggu Dia pergi, ada pesan puisi yang ku terima dari Prima


Sebisa waktu memberi
Aku kuat bertahan
Mawarku mekar, mawarmu layu
Seiring waktu yang berjalan
Mawar layu digenggaman kita

Entah apa maksud puisi tersebut. Aku mengenangnya sebagai masa lalu yang indah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar